Hujan turun hari ini. Rintik hujan yang menyentuh wajahku terasa dingin, segar. Akankah hujan ini akan mengenyahkan kabut yang ada di kepalaku. Menjernihkan pikiran yang semakin keruh oleh liku hidup yang kujalani. Atau malah saking derasnya hujan itu akan membuat semua menjadi kabur, tak jelas. Ah rintik hujan ini jadi terasa menyebalkan.
Miyabi nggak jadi dateng ya?!
Nggak apa-apa sih. Toh kalo dateng juga nggak bisa diapa-apain. Yang jadi pertanyaan nih, lha fpi kok gencer banget ya protes tuh orang.
Jangan-jangan fpi bener-bener protes, pro miyabi bahkan pengen ngetes rasanya miyabi. Hmmmmmm…. Bisa jadi juga
Siapa ibu khotijah?
ibu khotijah adalah perantau asal madura yang merantau di ibukota negara yang tercinta ini. Apa yang membuatnya spesial?. Setiap manusia adalah spesial. Saya percaya itu. Saya menuliskan tentang ibu khotijah disini untuk memenuhi tugas basic mentality. Untuk mengerjakan tugas itu saya harus mewawancarai seseorang, lalu saya harus menentukan karakter seperti apa yang dia miliki. Tugas yang tak terlalu mudah. Karena kami mahasiswa polman astra, lebih terbiasa berbicara dengan mesin daripada dengan manusia. Tapi, tugas ini tetap harus saya kerjakan kan?!.
Oke mari saya mulai. Karakter apa saja yang saya temukan dari ibu khotijah ini?. Seperti laiknya para perantau yang mengadu nasib di jakarta, ibu khotijah mempunyai kemauan yang kuat. Hal ini sangat diperlukan untuk bisa tetap survive di belantara ibu kota ini. Ibu khotijah juga orang yang mempunyai semangat untuk bekerja keras. Mungkin kita akan bertanya
untuk apa sih bekerja keras dengan merantau di jakarta padahal bisa saja santai sambil bertani di daerahnya?
. Jawabannya sebagian besar sama dengan perantau lain. Untuk mengubah nasib. Tapi, ada satu hal lain yang ingin dia wujudkan. Dia ingin anaknya yang masih sekolah di kelas 1 smp bisa melanjutkan pendidikannya sampai jenjang kuliah. Keinginan yang cukup mulia kan?. Ini satu hal lagi untuk dicatat. Dia punya mimpi untuk diwujudkan. Bukankah dengan memiliki mimpi maka sama saja dengan menjaga harapan?!.
Saya juga diharuskan untuk menjawab suatu pertanyaan. Mengapa dia tidak bisa menjadi melebihi saat ini?. Karakter apa yang menyebabkan hal itu?. Pertanyaan tadi cukup sulit menurut saya. Apalagi di tengah kondisi indonesia yang seperti ini. Mempunyai dagangan saja sudah merupakan suatu hal yang harus disyukuri. Tapi kembali lagi, saya harus bisa menjawab pertanyaan itu. Menurut saya bu khotijah bisa menjadi lebih dari saat ini bila dia lebih oportunis dan berani mengambil resiko. Dua hal itu saja yang bisa saya sebutkan. Mengapa? Karena bu khotijah sudah merupakan pekerja keras, memiliki semangat, adaptif dan mempunyai mimpi.
Lalu apa yang bisa saya ambil dari hal ini?. Untuk menjadi orang yang sukses, bekerja keras saja belum cukup. Mampu melihat dan berani mengambil kesempatan yang ada adalah keharusan. Tinggalkan zona nyaman untuk kembali bekerja keras agar bisa mewujudkan mimpi.
Kayaknya cukup deh..
Segini aja dulu..
Apa sih artinya menang?. Ketika sebuah kemenangan didapatkan dengan kepedihan orang kalah. Ketika kau harus menggunakan jalan yang tak lagi bisa kau setujui dengan hati. Dan ketika kau tertawa tanpa henti di depan pusara semua orang yang kau sakiti.
Indahnya sebuah kemenangan ketika si kalah tak merasa menjadi pecundang akan kekalahannya. Ketika si pemenang tak jadi jumawa karena kemenangannya. Dan semua hal akan menjadi indah.
Terkadang untuk menang banyak orang menjadi setan. Menjadi sesuatu yang bahkan tak bisa dikenali oleh dirinya sendiri. Kita terkadang mengikuti hukum “makan atau dimakan”. Dengan mengesampingkan cara yang lebih sopan. .
.
.
.
Post pertama lewat email
orang bilang waktu yang telah bergulir tak akan pernah bisa kembali. err… kalau kembali sih nggak mungkin memang tapi kalau diganti?. kalau menurutku sih yang nggak bisa diganti itu apa yang kita lewati saat kita melewatkan waktu. lebih tepatnya sih momennya.
di kampusku polman astra, diterapkan suatu peraturan yang mengharuskan siswanya (mahasiswa) untuk menghadiri kuliah 100%. mungkin akan timbul pertanyaan gimana kalo sakit?. gimana kalo ada urusan yang sangat penting?.
yap… tentu saja kita diperbolehkan untuk tidak menghadiri kelas apabila dalam keadaan yang mendesak. lah terus bagaimana dengan peraturan kehadiran 100%?. agar peraturan itu bisa tetap dijalankan maka di polman diberlakukan jam minus.
apa sih jam minus itu?.penjelasannya gimana yah???… intinya sih jam denda akibat ketidakhadiran yang harus diganti. artinya kita harus mengganti waktu yang kita tinggalkan.
adil kan?!. hehe sebenernya sih emang adil. tapi kadang-kadang nggak ngenakin juga. misalnya hari ini aku baru selesai membayar minus yang kalau ditotal nyampe 150 jam lebih. oh iya, per hari di polman di hitung 8 jam. kebayang kan berapa hari…..
yah kilahnya sih biar bisa lebih disiplin aja katanya…..
yah semangat aja deh….
nb. sakit dan ijin dihitung 8 jam perhari.
alfa 16 jam perhari
seberapa sakitnyakah apabila luka yang cukup dalam disiram dengan air garam?. tapi kita masih tak boleh menyimpulkan itu adalah hal yang buruk kan?. ketika orang mempunyai satu batas dan batas itu terlewati maka dia akan punya batas baru.
tapi, apabila kita tak mampu melewati batas itu. itu berarti kita telah sampai pada suatu titik. apakah aku bisa melewati batas itu. atau akuĀ hanya bisa sampai disini.
time will always proving
hilang meninggalkan sebuah kenangan
Diterbitkan November 26, 2008 Uncategorized Tinggalkan a Komentarkepergian seseorang pasti meninggalkan kenangan. baik atau buruk sangat tergantung oleh apa yang diingat orang-orang yang telah ditinggalkan. menurutmu apa yang akan kamu rasakan ketika kamu kehilangan seorang teman yang telah bersama dalam kurun waktu satu tahun. sedih?, biasa aja?, atau malah seneng.
perpisahan akan selalu terjadi setelah pertemuan dalam konteks apapun. dan kita mau tidak mau harus menerima hal itu. yang terkadang tidak bisa kita terima adalah waktunya. kenapa harus terjadi saat itu?. ya pertanyyannya adalah kenapa??????
kita sama sekali tak akan bisa mendapatkan jawaban yang pasti akan hal itu. tapi kepergian/perpisahan itu harus kita terima dengan lapang dada. mungkin dengan perpisahan ini kita bisa mengalami pertemuan kembali dengan orang lain.
atau kalau masih belum bisa menerima hal itu dalam hati. terimalah dalam otak.
“Grant me the serenity to accept the things i cannot change, courage to change the things i can, and wisdom to know the difference”
jalan yang akan kulalui masih panjang. ya aku bahkan belum bisa melihat apa-apa di depanku. aku sama sekali belum tahu dimana aku akan berhenti. hmmm…. fuel indicator hampir menunjuk strip E. ahhhh… aku harus cepat menemukan tempat singgah dengan bahan bakar yang tersisa ini. aku ingin beristirahat dan mengisi bahan bakar agar aku dapat berjalan lebih tenang.
ahhhhh…. tak kulihat apapun di depan sana. apakah aku harus terhenti di sini. apakah hanya sampai sini?. tidak, aku tidak mau (masih belum mau) terhenti di sini, sepi, dan sendiri.
tidak!
menurutmu apa yang bisa kita lakukan untuk memulihkan sebuah kenangan. apa yang terjadi apabila kenangan yang sangat ingin kita ingat menjadi seperti lubang hitam. hampa dan kosong.
sucks
hari ini beberapa jam yang lalu. pemerintah sudah berhasil untuk mengurangi kepadatan pulau jawa. setidaknya ada 3 orang yang telah hilang dari permukaan tanah jawa menuju ke bawah tanah. setiap tahun pemerintah sendiri telah mengeluarkan banyak upaya untuk penanggulangan kepadatan. ya, misalnya dengan cara tidak memperbaiki jalan yang rusak, membiarkan perlintasan kereta api tanpa palang pintu dan sebagainya.
kembali ke masalah 3 orang tadi, apakah manusia berhak untuk memutuskan kapan dan dimana manusia akan mati?. tidak diragukan lagi perbuatan 3 orang yang kita sebut teroris itu salah. lalu apakah dengan nama kebenaran kita dapat mengambil hidup mereka?. bukankah kita akan sama dengan mereka?. tanyakanlah pada mereka apa yang membuat mereka mengebom bali. saya yakin jawaban mereka tak akan jauh dari kata “kebenaran”. sebenarnya kebenaran mana yang kita pakai untuk memutuskan hal itu?
yah ,….. pemisah antara benar dan salah memang tak lebih tebal dari sehelai kertas
