[menerbitkan yang ada di draft]
Sore ini melihat cahaya senja yang cerah sekaligus temaram membuat lelah ini sedikit hilang. Senja menurutku memang memenangkan. Cahaya sang matahari yang pada siang hari menyilaukan menjadi temaram. Sehingga saya dapat menatapnya dengan jumawa seakan lupa pada kekuatannya saat siang.
Senja kali ini mungkin sama seperti senja lainnya, tapi menatapnya dalam bis yang melaju di jalan tol membuat sensasi yang saya rasakan menjadi berbeda. Warna jingga yang terpantul di aspal, dan kuningnya padi yang terhampar di pinggiran jalan, membuat saya mengingat kembali masa yang telah lama saya tinggalkan. Memori saat menjalani pendidikan di kota kecil di jawa tengah, sedikit demi sedikit terputar kembali dalam otak. Tentang sawah menguning yang terhampar luas, Tempat saya dan kawan-kawan berjalan di pematangnya. Tentang senja yang membuat saya harus lekas pulang dan segera beranjak ke musholla. Dalam ingatan saya yang sepertinya mulai memudar ini, tervisualisasikan keindahan sungai yang disebut kali wetan yang meliuk-liuk dan berwarna keemasan disirami cahaya senja. Ya, silahkan mencibir. Saya memang sedang melankolis saat ini. Terlebih masa kecil yang telah saya lewati tak mungkin saya ulangi. Jadi mencoba untuk mengingat masa lalu sambil menertawakan kebodohan kita tidak salah kan? don’t ever look back unless you can laugh<\i>
0 Tanggapan ke “Senja dan masa lalu”